Karena keberlanjutan bukan hanya tentang bumi yang hijau, tetapi juga tentang manusia yang dipeluk kemanusiaannya.
Bahwa di balik gencarnya isu perubahan iklim dan inovasi hijau, masih ada kelompok manusia yang tidak terlihat, Individu Berkebutuhan Khusus (IBK) yang terus berjuang untuk diterima, bahkan di dalam keluarganya sendiri.


kelahiran per tahun di Indonesia
Customers Globally
Kelompok disabilitas sering disebut kelompok berkebutuhan khusus yang cakupannya luas—mulai dari individu dengan disabilitas fisik, sensorik (netra, tuli, wicara), mental, perkembangan kecerdasan, dan lainnya.
Di dalam kelompok disabilitas/berkebutuhan khusus tersebut ada sub-kelompok yang lebih sering luput dari perhatian: kelompok Neurodivergence.
dianggap aneh, dikucilkan, tidak diberi kesempatan, perundungan, sasaran kriminalitas.
aib keluarga, tekanan budaya, ketidaksiapan menerima, beban ekonomi.
“Dulu, setiap kali Aldi mendekati orang, saya hanya bisa menebak siapa yang akan tersenyum dan siapa yang akan menghindar. Tapi dari setiap reaksi itu, saya belajar arti sabar dan penerimaan yang sesungguhnya — bahwa anak-anak seperti Aldi tidak butuh dikasihani, mereka hanya ingin disambut dan diterima apa adanya.”
“Banu (anak saya) nggak banyak bicara, tapi dia justru mengajarkan lebih banyak dari yang bisa saya jelaskan tentang menjadi manusia. Bagi banyak orang, kemampuannya menghitung tanggal dengan presisi dianggap aneh. Bagi kami, itu berkah. Kami percaya, di balik keterbatasan selalu ada potensi. Yang perlu diubah hanyalah cara kita memandangnya.”
“Awalnya saya pikir ini beban. Adik saya, Wilson, penyandang autisme. Dulu saya takut dia disalahpahami, sampai akhirnya sadar: tugas saya bukan melindunginya dari dunia, tapi membantu dunia memahami dirinya. Kini Wilson bekerja dan mandiri. Belum sempurna, tapi cukup membuat saya lega, karena yang terpenting adalah membekali, bukan meratapi.”
“Anak saya sangat peka, tahu kapan saya marah atau lelah bahkan sebelum saya sadar sendiri. Cintanya mengubah arah hidup saya, dari bekerja di hotel menjadi mendalami pendidikan autisme. Saya belajar bahwa setiap anak, dengan caranya sendiri, bisa tumbuh jadi individu yang berdaya dan penuh kasih.”
“Orang bilang kami tidak beruntung, tapi justru kehadiran anak saya yang memberkati. Roshan sering disalahpahami saat di tempat umum, berlari tiba-tiba atau menyentuh hal yang membuatnya penasaran, bukan karena nakal, tapi karena itulah caranya mengenali dunia. Kami tak butuh dikasihani, hanya dimengerti, karena autisme mengajarkan kami arti cinta dan keteguhan.”
“Saat dokter bilang anak saya Down Syndrome, saya khawatir tapi memilih untuk menghadapi. Ikhlas lahir dengan banyak tantangan, bahkan harus operasi jantung di usia 10 bulan. Tapi setiap langkah kecilnya adalah keajaiban yang kami rayakan. Kini, ia bekerja sebagai barista, dunia mulai melihatnya bukan dari wajahnya, tapi dari ketekunan dan kejujurannya. Karena anak-anak seperti Ikhlas tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh dipercaya.”
Hubungan orang tua, siblings, maupun keluarga besar dengan IBK memerlukan kesiapan yang kokoh dan tulus.
Keresahan orangtua IBK:
“Bagaimana dengan nasib anak saya setelah saya, sebagai orang tua, berpulang?”
Pemahaman dan penerimaan masih minim. Banyak yang tidak tahu harus berbuat apa dengan IBK.
Reality check:
Masyarakat belum banyak tahu bagaimana berinteraksi, memahami, dan menerima keberadaan mereka.
Masih banyak yang tidak memperhatikan dan cenderung kepada charity yang bersifat sesaat.
Mengapa?
Karena business model dan orientasinya belum mencakup pendekatan inklusi, baik karena belum paham maupun belum mampu mengeksplorasi secara inovatif menjadi sebuah sumber keunggulan perusahaan.
Masih berproses dengan berbagai agenda nasional atau daerah yang lebih mengemuka dibandingkan langkah keberpihakan yang efektif dan efisien kepada Kelompok Rentan, khususnya IBK.
Yang dibutuhkan:
Kebijakan inklusif yang efektif dan efisien, bukan hanya administratif.
Gerakan ini adalah maraton kemanusiaan, bukan sprint kampanye sesaat.
Perubahan sejati tidak terjadi dalam semalam.
Tidak terjadi dalam satu postingan viral atau acara amal akhir pekan.
Ia terjadi melalui:
Agar orang melihat
Agar orang memahami
Agar orang terlibat
Agar IBK memiliki masa depan
Untuk perusahaan yang siap menyematkan inklusi ke dalam model bisnis mereka
Untuk individu yang siap menjadi bagian dari gerakan
Untuk mereka yang ingin memahami sebelum bertindak
Sustainability isn’t just about protecting the planet — it’s also about safeguarding people and communities
Copyright © 2025 School of Sustainability & Policy. All rights reserved.