Preloader

Welcome to SCHOOL OF SUSTAINABILITY & POLICY

Go Green Terus, Kapan Go Human?

Karena keberlanjutan bukan hanya tentang bumi yang hijau, tetapi juga tentang manusia yang dipeluk kemanusiaannya.

The Question that Changes Everything

Gerakan sosial #KapanGoHuman lahir dari keresahan.

Bahwa di balik gencarnya isu perubahan iklim dan inovasi hijau, masih ada kelompok manusia yang tidak terlihat, Individu Berkebutuhan Khusus (IBK) yang terus berjuang untuk diterima, bahkan di dalam keluarganya sendiri.

Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat:
Bahwa tanpa inklusi, tidak ada keberlanjutan.

The Reality We Face

1 dari 100 anak di Indonesia hidup dengan Autism Spectrum Disorder

0 Juta

kelahiran per tahun di Indonesia

0 Juta

Customers Globally

  • Keluarga sering belum siap;
  • masyarakat belum tahu harus berbuat apa;
  • dunia usaha berhenti di charity;
  • kebijakan inklusi perlu diperkuat di setiap level.

UNDERSTANDING NEURODIVERGENCE

Who Are We Talking About?

Kelompok disabilitas sering disebut kelompok berkebutuhan khusus yang cakupannya luas—mulai dari individu dengan disabilitas fisik, sensorik (netra, tuli, wicara), mental, perkembangan kecerdasan, dan lainnya.

Di dalam kelompok disabilitas/berkebutuhan khusus tersebut ada sub-kelompok yang lebih sering luput dari perhatian: kelompok Neurodivergence.

The Invisible Walls

Individu Berkebutuhan Khusus (IBK) masih kerap mengalami penolakan, tekanan sosial, dan stigma—bukan hanya di masyarakat, tapi juga di dalam keluarganya sendiri.

Di Masyarakat

dianggap aneh, dikucilkan, tidak diberi kesempatan, perundungan, sasaran kriminalitas.

Di Rumah

aib keluarga, tekanan budaya, ketidaksiapan menerima, beban ekonomi.

“Inklusi sejati dimulai dari pengakuan dan pemahaman di dalam rumah.”

REAL PEOPLE, REAL STORIES

Setiap cerita dalam #KapanGoHuman adalah nyata.

“Dulu, setiap kali Aldi mendekati orang, saya hanya bisa menebak siapa yang akan tersenyum dan siapa yang akan menghindar. Tapi dari setiap reaksi itu, saya belajar arti sabar dan penerimaan yang sesungguhnya — bahwa anak-anak seperti Aldi tidak butuh dikasihani, mereka hanya ingin disambut dan diterima apa adanya.”

Ibu Amy Anak ADHD (27 Tahun)

“Banu (anak saya) nggak banyak bicara, tapi dia justru mengajarkan lebih banyak dari yang bisa saya jelaskan tentang menjadi manusia. Bagi banyak orang, kemampuannya menghitung tanggal dengan presisi dianggap aneh.
Bagi kami, itu berkah. Kami percaya, di balik keterbatasan selalu ada potensi. Yang perlu diubah hanyalah cara kita memandangnya.”

Pan Endy Anak Autisme (31 Tahun)

“Awalnya saya pikir ini beban. Adik saya, Wilson, penyandang autisme. Dulu saya takut dia disalahpahami, sampai akhirnya sadar: tugas saya bukan melindunginya dari dunia, tapi membantu dunia memahami dirinya. Kini Wilson bekerja dan mandiri. Belum sempurna, tapi cukup membuat saya lega, karena yang terpenting adalah membekali, bukan meratapi.”

Kak Widya Adik Autisme (41 Tahun)

“Anak saya sangat peka, tahu kapan saya marah atau lelah bahkan sebelum saya sadar sendiri. Cintanya mengubah arah hidup saya, dari bekerja di hotel menjadi mendalami pendidikan autisme. Saya belajar bahwa setiap anak, dengan caranya sendiri, bisa tumbuh jadi individu yang berdaya dan penuh kasih.”

Ibu Medy Anak ASD (21 Tahun)

“Orang bilang kami tidak beruntung, tapi justru kehadiran anak saya yang memberkati. Roshan sering disalahpahami saat di tempat umum, berlari tiba-tiba atau menyentuh hal yang membuatnya penasaran, bukan karena nakal, tapi karena itulah caranya mengenali dunia. Kami tak butuh dikasihani, hanya dimengerti, karena autisme mengajarkan kami arti cinta dan keteguhan.”

Ibu Naomi Anak Autisme (15 Tahun)

“Saat dokter bilang anak saya Down Syndrome, saya khawatir tapi memilih untuk menghadapi. Ikhlas lahir dengan banyak tantangan, bahkan harus operasi jantung di usia 10 bulan. Tapi setiap langkah kecilnya adalah keajaiban yang kami rayakan. Kini, ia bekerja sebagai barista, dunia mulai melihatnya bukan dari wajahnya, tapi dari ketekunan dan kejujurannya. Karena anak-anak seperti Ikhlas tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh dipercaya.”

Ibu Ani Anak Down Syndrome (22 Tahun)

WHAT THEY FACE EVERY DAY

THE FOUR CHALLENGES

Masyarakat

Keluarga

1.Keluarga

Hubungan orang tua, siblings, maupun keluarga besar dengan IBK memerlukan kesiapan yang kokoh dan tulus.
Keresahan orangtua IBK:
“Bagaimana dengan nasib anak saya setelah saya, sebagai orang tua, berpulang?”

2.Masyarakat

Pemahaman dan penerimaan masih minim. Banyak yang tidak tahu harus berbuat apa dengan IBK.
Reality check:
Masyarakat belum banyak tahu bagaimana berinteraksi, memahami, dan menerima keberadaan mereka.

3.Dunia Usaha

Masih banyak yang tidak memperhatikan dan cenderung kepada charity yang bersifat sesaat.
Mengapa?
Karena business model dan orientasinya belum mencakup pendekatan inklusi, baik karena belum paham maupun belum mampu mengeksplorasi secara inovatif menjadi sebuah sumber keunggulan perusahaan.

3.Pemerintah

Masih berproses dengan berbagai agenda nasional atau daerah yang lebih mengemuka dibandingkan langkah keberpihakan yang efektif dan efisien kepada Kelompok Rentan, khususnya IBK.
Yang dibutuhkan:
Kebijakan inklusif yang efektif dan efisien, bukan hanya administratif.

OUR APPROACH

From Awareness to Acceptance

Gerakan ini adalah maraton kemanusiaan, bukan sprint kampanye sesaat.
Perubahan sejati tidak terjadi dalam semalam.
Tidak terjadi dalam satu postingan viral atau acara amal akhir pekan.
Ia terjadi melalui:

Membangun Kesadaran

Agar orang melihat

Mendorong Penerimaan

Agar orang memahami

Menggerakkan Aksi

Agar orang terlibat

Menciptakan Ruang Hidup

Agar IBK memiliki masa depan

“Ruang hidup IBK tidak hanya dibangun untuk masa depan. Ia dimulai hari ini, bersama-sama.”

HOW WE DO IT

Five Pillars, One Movement

Edit Content

Social Media & Ruang Dialog

Membangun percakapan digital tentang empati, perbedaan, dan penerimaan.
Edit Content

Festival & Art

Merayakan neurodiversitas melalui kreativitas. Why Art? Karena kreativitas tidak mengenal disabilitas. Seni berbicara di mana kata-kata gagal
Edit Content

Field Engagement

Membawa percakapan ke dunia nyata.
Why It Works? Orang berubah ketika mereka mengalami, bukan hanya mendengar.
Edit Content

Capacity Building

Mentransformasi pola pikir, satu pemimpin pada satu waktu.
Edit Content

Volunteerism

Menciptakan ekosistem dukungan. Impact: Setiap relawan menjadi riak air. Setiap riak air menciptakan gelombang.

GALLERY

How We Tell Our Stories So Far..

So, #KapanGoHuman?

Jawabannya Sederhana: HARI INI!!

Saya ingin bermitra

Untuk perusahaan yang siap menyematkan inklusi ke dalam model bisnis mereka

Join Relawan

Untuk individu yang siap menjadi bagian dari gerakan

Saya Ingin Belajar

Untuk mereka yang ingin memahami sebelum bertindak